Sriwijaya FC resmi dipastikan terdegradasi dari Pegadaian Championship 2025/2026 setelah menelan kekalahan telak 0-3 dari Sumsel United di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang, Sabtu (28/2/2026). Kekalahan ini membuat Elang Andalas hanya mengantongi dua poin dari seluruh pertandingan yang sudah dijalani musim ini.

Kondisi ini sekaligus menegaskan bahwa tim asal Palembang tersebut akan bermain di Liga Nusantara atau kasta ketiga pada musim depan. Terdegradasinya Sriwijaya FC memang sudah bisa diprediksi mengingat performa buruk yang mereka tunjukkan sejak awal musim.
Meski masih menyisakan enam laga lagi, peluang tim ini untuk bangkit sangat tipis. Tim yang pernah menjadi salah satu raksasa Liga Indonesia ini kini menghadapi kenyataan pahit setelah puluhan tahun meraih prestasi gemilang.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Jarak Poin yang Mustahil Dikejar
Sriwijaya FC kini menempati posisi juru kunci di Grup A Pegadaian Championship 2025/2026. Hanya dengan dua poin, mereka terpaut jauh dari tim di posisi kesembilan, Persekat Tegal, yang unggul 20 poin. Jarak poin ini hampir mustahil dikejar mengingat sisa laga yang tersedia.
Sejak awal musim, performa tim memang selalu di bawah standar. Laskar Wong Kito kesulitan mencetak kemenangan, bahkan konsistensi lini pertahanan dan serangan sangat lemah. Hasil buruk ini membuat manajemen dan suporter sadar bahwa degradasi tak terhindarkan.
Masalah finansial yang mendera klub menjadi faktor utama kegagalan mereka. Banyak pemain meninggalkan klub, sementara logistik tim pun sering kali bermasalah, seperti harus melakukan perjalanan jauh menggunakan bus untuk laga tandang.
Baca Juga: Sidang Harry Maguire di Yunani Kembali Terancam Ditunda
Masalah Finansial dan Profesionalisme Klub

Keterpurukan Sriwijaya FC juga terkait dengan pengelolaan klub yang buruk. Masalah finansial membuat tim kehilangan banyak pemain penting, sementara manajemen tidak mampu menyediakan fasilitas dan infrastruktur layak.
Perjalanan tim ke luar kota atau pulau kerap dilakukan dengan kondisi yang minim, berbeda dengan klub profesional lain yang menggunakan pesawat untuk laga tandang. Ketergantungan pada politik lokal dan ketokohan individu semakin menambah tekanan, sehingga performa di lapangan menurun drastis.
Kondisi ini menunjukkan bahwa prestasi masa lalu tidak menjamin stabilitas klub. Tanpa manajemen profesional, klub bisa dengan cepat kehilangan daya saing dan reputasi di kancah sepak bola nasional.
Kenangan dan Tantangan untuk Masa Depan
Sriwijaya FC didirikan pada 2004 setelah Pemerintah Sumatra Selatan mengakuisisi lisensi dari Persijatim. Dalam waktu singkat, klub ini berkembang pesat dan menorehkan sejarah dengan meraih dua gelar Liga Indonesia dan tiga gelar Piala Indonesia.
Sejak awal berdiri, SFC selalu dihuni pemain bintang, baik lokal maupun asing. Namun, pengelolaan yang tidak profesional dan terlalu mengandalkan politik membuat klub merosot. Kini, kejayaan yang pernah diraih terancam terlupakan.
Masa depan Sriwijaya FC tergantung pada seberapa cepat manajemen melakukan perbaikan. Jika tidak ada langkah nyata, sejarah gemilang yang pernah mereka torehkan bisa hilang seiring degradasi ke kasta bawah. Jangan lupa ikuti footballgearkit.com untuk mengetahui informasi berita bola menarik lainnya.
